Sasaran dan Lingkup Etika Bisnis
Dalam Perusahaan
Salah satu etika bisnis dalam perusahaan berfungsi untuk menggugah kesadaran moral para pelaku bisnis untuk berbisnis secara baik dan etis demi nilai-nilai tertentu (kejujuran,tanggung jawab, pelayanan, hak dan kepentingan orang lain dan lain-lain) dan demi kepentingan bisnisnya sendiri. Maka dari itu, melihat penting dan relevansinya etika bisnis tersebut, sebaiknya perusahaan harus memperhatikan sasaran dan lingkup etika bisnis itu sendiri. Terdapat tiga sasaran dan lingkup pokok etika bisnis.
Sasaran pertama, etika bisnis sebagai etika profesi yang dimana membahas berbagai prinsip, kondisi dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis. Dengan kata lain, etika bisnis ini bertujuan untuk mengimbau para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnisnya secara baik dan etis. Termasuk didalamnya imbauan yang didasarkan pada hakikat dan tujuan bisnis, yaitu untuk meraih keuntungan.
Sasaran kedua dari etika bisnis, adalah untuk menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh atau karyawan dan masyarakat luas pemilik asset umum seperti lingkungan hidup, akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapun juga. Sasaran kedua ini sangat penting dan vital dalam kondisi bisnis modern. Kenyataannya menunjukkan bahwa bisnis dewasa ini mempengaruhi kehidupan hampir semua anggota masayarakat tanpa terkecuali, entah sebagai pekerja, konsumen, atau pemilik asset umum tertentu. Dalam kaitannya, masyarakat luas sanagt rentan terhadap praktek bisnis yang apabila tidak dicermati dengan baik akan bisa sangat merugikan hak dan kepentingan masyarakat. Maka dari itu, masyarakat punya kepentingan langsung untuk mengawasi bisnis untuk bisa dijalankan secara baik dan etis.
Sasaran ketiga dari etika bisnis, yaitu mengenai sistem ekonomi yang sangat menentukkan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis lebih bersifat makro, yang lebih tepat dikenal sebagai etika ekonomi. Dalam lingkup makro semacam ini, etika bisnis berbicara mengenai monopoli, oligopoli, kolusi, dan praktek-praktek semacamnyayang akan sangat mempengaruhi sehat tidaknya suatu ekonomi dan juga menentukan baik tidaknya praktek bisnis dalam sebuah negara. Dengan kata lain, dalam lingkup ketiga ini, etika bisnis menekankan pentingnya kerangka legal-politis bagi praktek bisnis yang baik, yaitu pentingnya hukum dan aturan bisnis serta peran pemerintah efektif menjamin keberlakuan aturan bisnis tersebut secara konsekuen tanpa pandang bulu.
Ketiga lingkup dan sasaran etika bisnis ini yang telah dijelaskan diatas berkaitan erat satu dengan yang lainnya, dan bersama-sama menentukkan baik-tidaknya, etis tidaknya praktek bisnis ddi dalam suatu perusahaan. Dari penjelasan tersebutlah dapat dilihat dengan jelas bahwa ketiganya mendapat porsi dan penekanan tersendiri walaupun belum tentu secara proporsional.
Senin, 29 November 2010
Minggu, 21 November 2010
Tanggung jawab sosial perusahaan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Terdapat beberapa implikasi yang harus diperhatikan manjemen perusahaan dalam mendirikan sutu perusahaan besar maupun kecil. Salah satunya adalah manajemen harus memperhatikan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Etika dan tanggung jawab sosial merupakan rem perusahaan agar berkerja tidak bertabrakan dengan pemegang kepentingan perusahaan, seperti pelanggan, pemerintah, pemilik, kreditur, pekerja dan komunitas atau masyarakat.hubungan yang harmonis dengan pemegang kepentingan akan menghasilkan energi positif buat kemajuan perusahaan.
Salah satu contoh konkret mengenai kewajiban sosial suatu perusahaan adalah dalam hal perusahaan yang bersangkutan ingin memasuki wilayah operasi yang baru bagi kegiatan usahanya. Misalnya dalam bentuk pendirian pabrik disuatu wilayah yang selama ini belum diimasukinya. Jika ada perusahaan manufaktur hendak membuka pabrik baru dalam rangka perluasan kegiatannya, peristiwa inilah yang sering mendapat sambutan dari masyarakat sekitar maupun pemerintah.
Dalam segi pemerintah, berarti perusahaan ini dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut, bertambahnya sumber penerimaan pemerintah berupa pajak dan penerimaan lain-lain. Selain itu, bertambahnya mitra pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup rakyat di wilayh bersangkutan.
Sedangkan, dalam segi masyarakat menyambut dengan berbagai alasan seperti: tersedianya kesempatan kerja bagi warga setempat, berkurangnya tingkat pengangguran, bertambahnya sumber penghasilan masyarakat, meningkatnya jumlah organisasi yang berpartisipasi dalam mengatasi berbagai permasalahan social yang dihadapi, dan makin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat setempat dalam rangka pemuasan kebutuhan para karyawan pabrik di bidang perumahan, bahan kebutuhan sehari0hari, dan kebutuhan rekreasi.
Terdapat beberapa implikasi yang harus diperhatikan manjemen perusahaan dalam mendirikan sutu perusahaan besar maupun kecil. Salah satunya adalah manajemen harus memperhatikan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Etika dan tanggung jawab sosial merupakan rem perusahaan agar berkerja tidak bertabrakan dengan pemegang kepentingan perusahaan, seperti pelanggan, pemerintah, pemilik, kreditur, pekerja dan komunitas atau masyarakat.hubungan yang harmonis dengan pemegang kepentingan akan menghasilkan energi positif buat kemajuan perusahaan.
Salah satu contoh konkret mengenai kewajiban sosial suatu perusahaan adalah dalam hal perusahaan yang bersangkutan ingin memasuki wilayah operasi yang baru bagi kegiatan usahanya. Misalnya dalam bentuk pendirian pabrik disuatu wilayah yang selama ini belum diimasukinya. Jika ada perusahaan manufaktur hendak membuka pabrik baru dalam rangka perluasan kegiatannya, peristiwa inilah yang sering mendapat sambutan dari masyarakat sekitar maupun pemerintah.
Dalam segi pemerintah, berarti perusahaan ini dapat meningkatkan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut, bertambahnya sumber penerimaan pemerintah berupa pajak dan penerimaan lain-lain. Selain itu, bertambahnya mitra pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup rakyat di wilayh bersangkutan.
Sedangkan, dalam segi masyarakat menyambut dengan berbagai alasan seperti: tersedianya kesempatan kerja bagi warga setempat, berkurangnya tingkat pengangguran, bertambahnya sumber penghasilan masyarakat, meningkatnya jumlah organisasi yang berpartisipasi dalam mengatasi berbagai permasalahan social yang dihadapi, dan makin terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat setempat dalam rangka pemuasan kebutuhan para karyawan pabrik di bidang perumahan, bahan kebutuhan sehari0hari, dan kebutuhan rekreasi.
Kamis, 11 November 2010
ETIKA BISNIS
PRAKTEK BISNIS YANG TIDAK BERETIKA
Sebagaimana kita ketahui, tujuan dari praktek bisnis ialah untuk mendapatkan keuntungan yang besar untuk perusahaan. Fokus tersebutlah yang membuat perusahaan yang berpikiran jangka pendek berupaya dengan segala cara melakukan apa saja untuk menaikkan keuntungan. Tekanan kompetisi karena globalisasi dan konsumen yang semakin rewel sering dijadikan alasan. Akan tetapi, beberapa akademisi dan praktisi bisnis belakangan ini melihat adanya hubungan sinergis antara etika dan kepentingan perusahaan.
Para pemilik modal dan manajer perusahaan yang berpikiran pendek tentu sulit menerima logika ini karena beretika dalam bisnis jarang memberikan keuntungan segera. Karena itu, sistem organisasi terutama sistem insentif harus mempertimbangkan pencapaian prestasi jangka panjang dan penerapan nilai-nilai etika sebagai salah satu faktor penilaian dan promosi. Sistem audit dan kontrol juga harus diperketat untuk mendeteksi secepat mungkin penyimpangan yang terjadi dan menghukum para pelanggar etika tanpa memandang bulu. Selain itu, kepemimpinan yang menjunjung tinggi etika dan memberi teladan jelas sangat dibutuhkan juga. Tanpa hal-hal seperti itu, etika dalam perusahaan hanyalah omong kosong. Pelanggaran etika bisnis di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan etika perlu ditegakkan. Misalkan, perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan akan meimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi.
Tindakan yang tidak etis, bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif,misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.
Contoh kasus praktek bisnis perusahaan yang tidak beretika :
Kasus pada perusahaan Enron, Enron adalah perusahaan yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi.
Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut “spark spread“. Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis. Dalam waktu sangat singkat perusahaan yang tahun lalu masih membukukan pendapatan US$100 miliar, sekonyong-konyong harus melaporkan kebangkrutannya kepada otoritas pasar modal. Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai US$ 50 miliar. Sementara itu, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai Enron harus menangisi amblasnya dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1 miliar. Saham Enron yang pada Agustus 2000 masih berharga US$ 90 per lembar, terjerembab jatuh hingga tidak lebih dari US$ 45 sen. Tidak heran kalau banyak kalangan menyebut peristiwa ini sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis. Sedemikian hebohnya, sampai-sampai seluruh media bisnis dan ekonomi terkemuka menempatkannya sebagai cover story. Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu, belakangan Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar. Menggelembungkan nilai pendapatan dan menyembunyikan utang senilai itu tentulah tidak bias dilakukan sembarang orang. Diperlukan keahlian "akrobatik" yang tinggi dari para professional yang bekerja pada atau disewa oleh Enron untuk menyulap angka-angka, sehingga selama bertahun-tahun kinerja keuangan perusahaan ini tampak tetap mencorong. Dengan kata lain, telah terjadi sebuah kolusi tingkat tinggi antara manajemen Enron, analis keuangan, para penasihat hukum, dan auditornya. Komplikasi skandal ini bertambah, karena belakangan diketahui banyak sekali pejabat tinggi yang pernah menerima kucuran dana politik dari perusahaan ini.Dalam Komite yang membidangi energi, 19 dari 23 anggotanya juga termasuk yang menerima sumbangan dari perusahaan itu. Sementara itu, tercatat 35 pejabat penting pemerintahan George W. Bush merupakan pemegang saham Enron, yang telah lama merupakan perusahaan publik. Dalam daftar perusahaan penyumbang dana politik, Enron tercatat menempati peringkat ke-36, dan penyumbang peringkat ke-12 dalam penggalangan dana kampanye Bush. Akibat pertalian semacam itu, banyak orang curiga pemerintahan Bush dan para politisi telah dan akan memberikan perlakuan istimewa, baik dalam bisnis Enron selama ini maupun dalam proses penyelamatan perusahaan itu. Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut — dalam hal ini Arthur Andersen.Masyarakat akhirnya juga lebih aware terhadap pasar modal. Pemerintah pun juga makin hati-hati dalam melakukan pengawasan. Penyempurnaan terhadap sistem terus dilakukan. Salah satunya adalah lahirnya Sarbanes-Oxley Act. Akibat mendzolimi pelaku pasar lainnya, Enron akhirnya terkapar karena melakukan penipuan dan penyesatan. Pun bagi “Enron-wannabe” lainnya, perlu berpikir ulang dua-tiga kali untuk melakukan hal serupa.
Pelajaran yang dapat diambil dari megaskandal ini. Pertama, cepat atau lambat sebuah persekongkolan jahat pasti akan terbongkar. Kebohongan hanya bisa ditutupi secara permanen apabila si pelaku mampu secara permanen dan terus-menerus melakukan kebohongan lainnya. Dalam sebuah sistem terbuka seperti organisasi Enron, sulit untuk melakukan kebohongan itu secara terus-menerus, karena pelaku organisasi dalam tubuh Enron datang silih berganti. Dalam kasus Enron, seorang eksekutif yang berani telah membongkar semua persekongkolan itu. Kedua, kasus-kasus kejahatan ekonomi tingkat tinggi selalu saja mengorbankan kepentingan orang banyak. Segelintir petinggi Enron dan sejumlah pihak yang tahu betul dan ikut merekayasa permainan ini, tentulah menerima manfaat keuangan dalam jumlah besar secara tidak etis. Keserakahan segelintir profesional yang memanfaatkan ketidaktahuan dan keawaman banyak orang telah menyimpan bencana yang mencelakakan banyak pihak: ribuan pekerja, pemegang saham, para pemasok, kreditor, dan pihak-pihak lainnya.Ketiga, terbongkarnya praktek persekongkolan tingkat tinggi ini menjadi bukti bahwa praktek bisnis yang bersih dan transparan akan lebih langgeng (sustainable). Prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance), saat ini boleh jadi menjadi cibiran di tengah situasi yang serba semrawut. Tetapi berusaha secara transparan, fair, akuntabel, seraya menjaga keseimbangan lingkungan, kiranya merupakan sikap yang lebih bertanggung jawab.
Sebagaimana kita ketahui, tujuan dari praktek bisnis ialah untuk mendapatkan keuntungan yang besar untuk perusahaan. Fokus tersebutlah yang membuat perusahaan yang berpikiran jangka pendek berupaya dengan segala cara melakukan apa saja untuk menaikkan keuntungan. Tekanan kompetisi karena globalisasi dan konsumen yang semakin rewel sering dijadikan alasan. Akan tetapi, beberapa akademisi dan praktisi bisnis belakangan ini melihat adanya hubungan sinergis antara etika dan kepentingan perusahaan.
Para pemilik modal dan manajer perusahaan yang berpikiran pendek tentu sulit menerima logika ini karena beretika dalam bisnis jarang memberikan keuntungan segera. Karena itu, sistem organisasi terutama sistem insentif harus mempertimbangkan pencapaian prestasi jangka panjang dan penerapan nilai-nilai etika sebagai salah satu faktor penilaian dan promosi. Sistem audit dan kontrol juga harus diperketat untuk mendeteksi secepat mungkin penyimpangan yang terjadi dan menghukum para pelanggar etika tanpa memandang bulu. Selain itu, kepemimpinan yang menjunjung tinggi etika dan memberi teladan jelas sangat dibutuhkan juga. Tanpa hal-hal seperti itu, etika dalam perusahaan hanyalah omong kosong. Pelanggaran etika bisnis di perusahaan memang banyak, tetapi upaya untuk menegakan etika perlu ditegakkan. Misalkan, perusahaan tidak perlu berbuat curang untuk meraih kemenangan. Hubungan yang tidak transparan akan meimbulkan hubungan istimewa atau kolusi dan memberikan peluang untuk korupsi.
Tindakan yang tidak etis, bagi perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif,misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan. Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika pada umumnya perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.
Contoh kasus praktek bisnis perusahaan yang tidak beretika :
Kasus pada perusahaan Enron, Enron adalah perusahaan yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi.
Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut “spark spread“. Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis. Dalam waktu sangat singkat perusahaan yang tahun lalu masih membukukan pendapatan US$100 miliar, sekonyong-konyong harus melaporkan kebangkrutannya kepada otoritas pasar modal. Sebagai entitas bisnis, nilai kerugian Enron diperkirakan mencapai US$ 50 miliar. Sementara itu, pelaku pasar modal kehilangan US$ 32 miliar dan ribuan pegawai Enron harus menangisi amblasnya dana pensiun mereka tak kurang dari US$ 1 miliar. Saham Enron yang pada Agustus 2000 masih berharga US$ 90 per lembar, terjerembab jatuh hingga tidak lebih dari US$ 45 sen. Tidak heran kalau banyak kalangan menyebut peristiwa ini sebagai kebangkrutan terbesar dalam sejarah bisnis. Sedemikian hebohnya, sampai-sampai seluruh media bisnis dan ekonomi terkemuka menempatkannya sebagai cover story. Dalam proses pengusutan sebab-sebab kebangkrutan itu, belakangan Enron dicurigai telah melakukan praktek window dressing. Manajemen Enron telah menggelembungkan (mark up) pendapatannya US$ 600 juta, dan menyembunyikan utangnya sejumlah US$ 1,2 miliar. Menggelembungkan nilai pendapatan dan menyembunyikan utang senilai itu tentulah tidak bias dilakukan sembarang orang. Diperlukan keahlian "akrobatik" yang tinggi dari para professional yang bekerja pada atau disewa oleh Enron untuk menyulap angka-angka, sehingga selama bertahun-tahun kinerja keuangan perusahaan ini tampak tetap mencorong. Dengan kata lain, telah terjadi sebuah kolusi tingkat tinggi antara manajemen Enron, analis keuangan, para penasihat hukum, dan auditornya. Komplikasi skandal ini bertambah, karena belakangan diketahui banyak sekali pejabat tinggi yang pernah menerima kucuran dana politik dari perusahaan ini.Dalam Komite yang membidangi energi, 19 dari 23 anggotanya juga termasuk yang menerima sumbangan dari perusahaan itu. Sementara itu, tercatat 35 pejabat penting pemerintahan George W. Bush merupakan pemegang saham Enron, yang telah lama merupakan perusahaan publik. Dalam daftar perusahaan penyumbang dana politik, Enron tercatat menempati peringkat ke-36, dan penyumbang peringkat ke-12 dalam penggalangan dana kampanye Bush. Akibat pertalian semacam itu, banyak orang curiga pemerintahan Bush dan para politisi telah dan akan memberikan perlakuan istimewa, baik dalam bisnis Enron selama ini maupun dalam proses penyelamatan perusahaan itu. Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut — dalam hal ini Arthur Andersen.Masyarakat akhirnya juga lebih aware terhadap pasar modal. Pemerintah pun juga makin hati-hati dalam melakukan pengawasan. Penyempurnaan terhadap sistem terus dilakukan. Salah satunya adalah lahirnya Sarbanes-Oxley Act. Akibat mendzolimi pelaku pasar lainnya, Enron akhirnya terkapar karena melakukan penipuan dan penyesatan. Pun bagi “Enron-wannabe” lainnya, perlu berpikir ulang dua-tiga kali untuk melakukan hal serupa.
Pelajaran yang dapat diambil dari megaskandal ini. Pertama, cepat atau lambat sebuah persekongkolan jahat pasti akan terbongkar. Kebohongan hanya bisa ditutupi secara permanen apabila si pelaku mampu secara permanen dan terus-menerus melakukan kebohongan lainnya. Dalam sebuah sistem terbuka seperti organisasi Enron, sulit untuk melakukan kebohongan itu secara terus-menerus, karena pelaku organisasi dalam tubuh Enron datang silih berganti. Dalam kasus Enron, seorang eksekutif yang berani telah membongkar semua persekongkolan itu. Kedua, kasus-kasus kejahatan ekonomi tingkat tinggi selalu saja mengorbankan kepentingan orang banyak. Segelintir petinggi Enron dan sejumlah pihak yang tahu betul dan ikut merekayasa permainan ini, tentulah menerima manfaat keuangan dalam jumlah besar secara tidak etis. Keserakahan segelintir profesional yang memanfaatkan ketidaktahuan dan keawaman banyak orang telah menyimpan bencana yang mencelakakan banyak pihak: ribuan pekerja, pemegang saham, para pemasok, kreditor, dan pihak-pihak lainnya.Ketiga, terbongkarnya praktek persekongkolan tingkat tinggi ini menjadi bukti bahwa praktek bisnis yang bersih dan transparan akan lebih langgeng (sustainable). Prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance), saat ini boleh jadi menjadi cibiran di tengah situasi yang serba semrawut. Tetapi berusaha secara transparan, fair, akuntabel, seraya menjaga keseimbangan lingkungan, kiranya merupakan sikap yang lebih bertanggung jawab.
ETIKA BISNIS DALAM PERUSAHAAN
Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan atau moralitas dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai baik atau buruk. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manager dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoprasikan bisnis yang baik. Paradigma etika dan bisnis adalah dunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan bisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yang ketat ini reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru.
Selain itu, etika juga dapat sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat yang akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya.
Etika bisnis dalam perusahaan sangatlah penting karena dapat membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi. Maka dari itu, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.
Pada dasarnya, praktek etika bisnis dalam perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena beberapa hal seperti: akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal, akan dapat meningkatkan motivasi pekerja, akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga, dan akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Etika bisnis paling gampang diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena merekalah yang menjadi panutan bagi karyawannya. Selain itu, etika bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seharusnya bisa memisahkan antara perusahaan dengan kepemilikannya sendiri yang dalam operasinya, perusahaan harus mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang-undang yang berlaku.
Dalam prakteknya, etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan maupun sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang akan terus dibawa dalam pekerjannya. Repotnya lagi, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu, bila ada yang melanggar aturan haruslah diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan. Maka hal tersebut dapat mengurangi pelanggaran dalam etika bisnis.
Selain itu, terdapat 10 prinsip dalam menerapkan etika bisnis yang positif, yaitu : (1) Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi, tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran, (2) Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness, apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil?, (3) Etika Bisnis itu membutuhkan integritas, dimana integritas tersebut merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen, (4) Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran, dimana pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya, (5) Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis, dimana sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis, (6) Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal, ruang lingkup etika bisnis itu universal, (7) Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis, rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal, (8) Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh, (9) Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai, jika perusahaan anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder anda, (10) Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
Etika adalah suatu cabang dari filosofi yang berkaitan dengan kebaikan atau moralitas dari perilaku manusia. Dalam pengertian ini etika diartikan sebagai aturan-aturan yang tidak dapat dilanggar dari perilaku yang diterima masyarakat sebagai baik atau buruk. Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manager dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoprasikan bisnis yang baik. Paradigma etika dan bisnis adalah dunia yang berbeda sudah saatnya dirubah menjadi paradigma etika terkait dengan bisnis atau mensinergikan antara etika dengan laba. Justru di era kompetisi yang ketat ini reputasi perusahaan yang baik yang dilandasi oleh etika bisnis merupakan sebuah competitive advantage yang sulit ditiru.
Selain itu, etika juga dapat sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat yang akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya.
Etika bisnis dalam perusahaan sangatlah penting karena dapat membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi. Maka dari itu, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.
Pada dasarnya, praktek etika bisnis dalam perusahaan akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang karena beberapa hal seperti: akan dapat mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi baik intern perusahaan maupun dengan eksternal, akan dapat meningkatkan motivasi pekerja, akan melindungi prinsip kebebasan ber-niaga, dan akan meningkatkan keunggulan bersaing.
Etika bisnis paling gampang diterapkan di perusahaan sendiri. Pemimpin perusahaan memulai langkah ini karena merekalah yang menjadi panutan bagi karyawannya. Selain itu, etika bisnis harus dilaksanakan secara transparan. Pemimpin perusahaan seharusnya bisa memisahkan antara perusahaan dengan kepemilikannya sendiri yang dalam operasinya, perusahaan harus mengikuti aturan berdagang yang diatur oleh tata cara undang-undang yang berlaku.
Dalam prakteknya, etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan maupun sangsi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan yang akan terus dibawa dalam pekerjannya. Repotnya lagi, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu, bila ada yang melanggar aturan haruslah diberikan sangsi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan. Maka hal tersebut dapat mengurangi pelanggaran dalam etika bisnis.
Selain itu, terdapat 10 prinsip dalam menerapkan etika bisnis yang positif, yaitu : (1) Etika Bisnis itu dibangun berdasarkan etika pribadi, tidak ada perbedaan yang tegas antara etika bisnis dengan etika pribadi. Kita dapat merumuskan etika bisnis berdasarkan moralitas dan nilai-nilai yang kita yakini sebagai kebenaran, (2) Etika Bisnis itu berdasarkan pada fairness, apakah kedua pihak yang melakukan negosiasi telah bertindak dengan jujur? Apakah setiap konsumen diperlakukan dengan adil?, (3) Etika Bisnis itu membutuhkan integritas, dimana integritas tersebut merujuk pada keutuhan pribadi, kepercayaan dan konsistensi. Bisnis yang etis memperlakukan orang dengan hormat, jujur dan berintegritas. Mereka menepati janji dan melaksanakan komitmen, (4) Etika Bisnis itu membutuhkan kejujuran, dimana pengusaha harus jujur mengakui keterbatasan yang dimiliki oleh produknya, (5) Etika Bisnis itu membutuhkan perencanaan bisnis, dimana sebuah perusahaan yang beretika dibangun di atas realitas sekarang, visi atas masa depan dan perannya di dalam lingkungan. Semakin jelas rencana sebuah perusahaan tentang pertumbuhan, stabilitas, keuntungan dan pelayanan, maka semakin kuat komitmen perusahaan tersebut terhadap praktik bisnis, (6) Etika Bisnis itu diterapkan secara internal dan eksternal. Bisnis yang beretika memperlakukan setiap konsumen dan karyawannya dengan bermartabat dan adil. Etika juga diterapkan di dalam ruang rapat direksi, ruang negosiasi, di dalam menepati janji, dalam memenuhi kewajiban terhadap karyawan, buruh, pemasok, pemodal, ruang lingkup etika bisnis itu universal, (7) Etika Bisnis itu berdasarkan nilai. Perusahaan yang beretika harus merumuskan standar nilai secara tertulis, rumusan ini bersifat spesifik, tetapi berlaku secara umum. Etika menyangkut norma, nilai dan harapan yang ideal, (8) Etika Bisnis itu membutuhkan keuntungan. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang dikelola dengan baik, memiliki sistem kendali internal dan bertumbuh, (9) Etika Bisnis itu harus dapat dipercayai, jika perusahaan anda terbilang baru, sedang tergoncang atau mengalami kerugian, maka secara etis anda harus mengatakan dengan terbuka kepada klien atau stake-holder anda, (10) Etika Bisnis itu dimulai dari pimpinan. Kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap corak lembaga. Perilaku seorang pemimpin yang beretika akan menjadi teladan bagi anak buahnya.
ETIKA BISNIS
ETIKA BISNIS
Etika merupakan suatu kehendak yang sistematik melalui penggunaan alasan untuk mempelajari bentuk-bentuk moral dan pilihan-pilihan moral yang dilakukan oleh seseorang dalam menjalankan hubungan dengan orang lain. Etika Bisnis merupakan etika terapan yang merupakan aplikasi pemahaman kita tentang apa yang baik dan benar untuk beragam institusi, teknologi, transaksi, aktivitas dan usaha yang kita sebut bisnis. Selain itu, etika bisnis menjelaskan orientasi umum terhadap bisnis dan mendeskripsikan beberapa pendekatan khusus terhadap etika bisnis, yang secara bersama-sama menyediakan dasar untuk menganalisis masalah-masalah etis dalam bisnis.
Dalam etika bisnis, titik pandang harus difokuskan kepada suatu kelompok dan situasi tertentu, misalnya pada lingkungan bisnis teknik-teknik evaluasi diarahkan kepada perbuatan yang ada di dalam lingkungan yang mempunyai tujuan-tujuan bisnis.
Terdapat beberapa hubungan antara etika bisnis di dalam praktek perusahaan. Pertama, hubungan antara hukum dengan etika dalam perusahaan, Hukum tidak selalu lebih lambat daripada etika. Dengan tidak menyampingkan hambatan-hambatan yang sering menjadi preseden, hukum juga dapat berubah untuk mengakomodir pergeseran nilai-nilai tertentu yang mengikuti prinsip moral yang lebih jelas. Kebanyakan aturan hukum berada di bawah tingkatan tuntutan etika, akan tetapi, dalam kenyataan hukum ikut mendorong meningkatnya tuntutan etika.
Kedua, terdapat hubungan etika antara perilaku bisnis, Dalam kegiatan bisnis sehari-hari sangat mudah untuk menyebut etika bisnis, namun sulit sekali untuk menerapkannya. Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, sering etika bisnis ditinggalkan semata-mata untuk mengejar keuntungan yang besar dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Untuk mempertimbangkan etika dalam mengambil keputusan, merupakan proses kegiatan pemikiran etika yang sangat mirip dengan suatu studi produktif, hal ini merupakan langkah yang penting dan krusial dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks akhir-akhir ini, dimana pengambilan keputusan yang baik akan berdampak finansial secara langsung dari suatu tindakan yang dilakukan, namun juga terhadap kepentingan bisnis jangka panjang yang tidak terlihat dengan jelas ataupun dampaknya terhadap masyarakat.
Ketiga, terdapat juga hubungan etika dalam investasi, dalam melakukan investasi kebanyakan investor mencari dan memfokuskan perhatiannya terhadap investasi yang aman dan menjanjikan keuntungan yang tinggi, hanya sedikit yang memperhatikan investasi yang beretika. Apabila investor akan melakukan investasi yang berdasar etika, hendaklah perhatian utamanya ditujukan kepada produk dan jasa perusahaan tersebut. sehingga dari dasar pemikiran tersebut etika dapat membantu perusahaan dalam menentukkan investasi mana yang paling cocok dipakai perusahaan.
Keempat, hubungan antara teknologi dengan etika bisnis, Teknologi menyebabkan beberapa perubahan radikal, seperti globalisasi yang berkembang pesat dan hilangnya jarak, kemampuan menemukan bentuk-bentuk kehidupan baru yang keuntungan dan resikonya tidak terprediksi. Dengan perubahan cepat ini, organisasi bisnis berhadapan dengan setumpuk persoalan etis baru yang menarik.
Selain itu, terdapat juga hubungan etika bisnis dengan isu-isu terkait seperti moralitas dan prinsip etika universal. Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat. Nilai-nilai moral biasanya diekspresikan sebagai pernyataan yang mendeskripsikan objek-objek atau ciri-ciri objek yang bernilai, semacam “kejujuran itu baik” dan “ketidakadilan itu buruk”. Sedangkan, dalam hal prinsip etika universal merupakan tingkat final, tindakan yang benar dilakukan berdasarkan prinsip moral karena logis, universality dan konsistensi.
Etika merupakan suatu kehendak yang sistematik melalui penggunaan alasan untuk mempelajari bentuk-bentuk moral dan pilihan-pilihan moral yang dilakukan oleh seseorang dalam menjalankan hubungan dengan orang lain. Etika Bisnis merupakan etika terapan yang merupakan aplikasi pemahaman kita tentang apa yang baik dan benar untuk beragam institusi, teknologi, transaksi, aktivitas dan usaha yang kita sebut bisnis. Selain itu, etika bisnis menjelaskan orientasi umum terhadap bisnis dan mendeskripsikan beberapa pendekatan khusus terhadap etika bisnis, yang secara bersama-sama menyediakan dasar untuk menganalisis masalah-masalah etis dalam bisnis.
Dalam etika bisnis, titik pandang harus difokuskan kepada suatu kelompok dan situasi tertentu, misalnya pada lingkungan bisnis teknik-teknik evaluasi diarahkan kepada perbuatan yang ada di dalam lingkungan yang mempunyai tujuan-tujuan bisnis.
Terdapat beberapa hubungan antara etika bisnis di dalam praktek perusahaan. Pertama, hubungan antara hukum dengan etika dalam perusahaan, Hukum tidak selalu lebih lambat daripada etika. Dengan tidak menyampingkan hambatan-hambatan yang sering menjadi preseden, hukum juga dapat berubah untuk mengakomodir pergeseran nilai-nilai tertentu yang mengikuti prinsip moral yang lebih jelas. Kebanyakan aturan hukum berada di bawah tingkatan tuntutan etika, akan tetapi, dalam kenyataan hukum ikut mendorong meningkatnya tuntutan etika.
Kedua, terdapat hubungan etika antara perilaku bisnis, Dalam kegiatan bisnis sehari-hari sangat mudah untuk menyebut etika bisnis, namun sulit sekali untuk menerapkannya. Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, sering etika bisnis ditinggalkan semata-mata untuk mengejar keuntungan yang besar dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Untuk mempertimbangkan etika dalam mengambil keputusan, merupakan proses kegiatan pemikiran etika yang sangat mirip dengan suatu studi produktif, hal ini merupakan langkah yang penting dan krusial dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks akhir-akhir ini, dimana pengambilan keputusan yang baik akan berdampak finansial secara langsung dari suatu tindakan yang dilakukan, namun juga terhadap kepentingan bisnis jangka panjang yang tidak terlihat dengan jelas ataupun dampaknya terhadap masyarakat.
Ketiga, terdapat juga hubungan etika dalam investasi, dalam melakukan investasi kebanyakan investor mencari dan memfokuskan perhatiannya terhadap investasi yang aman dan menjanjikan keuntungan yang tinggi, hanya sedikit yang memperhatikan investasi yang beretika. Apabila investor akan melakukan investasi yang berdasar etika, hendaklah perhatian utamanya ditujukan kepada produk dan jasa perusahaan tersebut. sehingga dari dasar pemikiran tersebut etika dapat membantu perusahaan dalam menentukkan investasi mana yang paling cocok dipakai perusahaan.
Keempat, hubungan antara teknologi dengan etika bisnis, Teknologi menyebabkan beberapa perubahan radikal, seperti globalisasi yang berkembang pesat dan hilangnya jarak, kemampuan menemukan bentuk-bentuk kehidupan baru yang keuntungan dan resikonya tidak terprediksi. Dengan perubahan cepat ini, organisasi bisnis berhadapan dengan setumpuk persoalan etis baru yang menarik.
Selain itu, terdapat juga hubungan etika bisnis dengan isu-isu terkait seperti moralitas dan prinsip etika universal. Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat. Nilai-nilai moral biasanya diekspresikan sebagai pernyataan yang mendeskripsikan objek-objek atau ciri-ciri objek yang bernilai, semacam “kejujuran itu baik” dan “ketidakadilan itu buruk”. Sedangkan, dalam hal prinsip etika universal merupakan tingkat final, tindakan yang benar dilakukan berdasarkan prinsip moral karena logis, universality dan konsistensi.
Rabu, 02 Juni 2010
RESENSI buku
Judul buku : MARKETING
Pengarang : Ali Hasan, S.E.,M.M.
Kesimpulan
Pemasaran (marketing) merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan, pemegang saham). Sebagai ilmu, marketing merupakan ilmu pengetahuan yang objektif, yang diperoleh dengan menggunakan instrumen tertentu untuk mengukur kinerja dari aktivitas bisnis dalam membentuk, mengembangkan, mengarahkan pertukaran yang saling menguntungkan dalam jangka panjang, antara produsen dan konsumen atau pemakai. Sebagai srategi bisnis, marketing merupakan tindakan penyesuaian suatu organisasi yang beroreantasi pasar dalam menghadapi kenyataan bisnis, baik dalam lingkungan makro maupun mikro yang terus berubah.
Dalam konteks itulah bukui inimenawarkan kepada para praktisi marketing untuk memperluas wawasan, konsep, strategi dan implementasi secara tepat dalam membimbing perjalanan transformasi bisnis menjadi sukses. Buku ini juga bisa dipakai oleh para mahasiswa program studi manajemen yang mengambil spesialisasi marketing. Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai kasus marketing perusahaan nasional dan internasional yang akan menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dalam dunia marketing.
Kelebihan :
• Dalam buku ini penulis memberikan keterangan yang sangat lengkap dalam bagian sub-sub pokoknya yang dimana dibutuhkan para pembaca.
• Penulis sangat memperhatikan detail dari bacaan, dimana tiap bagian pembahasan selalu lengkap dan lebih terinci pembahasannya.
• Buku sangat diperlukan untuk mahasiswa yang menyukai marketing.
Kekurangan :
• Buku ini sangat tebal sehingga memerlukan waktu yang sangat lama untuk membaca dan memahaminya.
Pengarang : Ali Hasan, S.E.,M.M.
Kesimpulan
Pemasaran (marketing) merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan, pemegang saham). Sebagai ilmu, marketing merupakan ilmu pengetahuan yang objektif, yang diperoleh dengan menggunakan instrumen tertentu untuk mengukur kinerja dari aktivitas bisnis dalam membentuk, mengembangkan, mengarahkan pertukaran yang saling menguntungkan dalam jangka panjang, antara produsen dan konsumen atau pemakai. Sebagai srategi bisnis, marketing merupakan tindakan penyesuaian suatu organisasi yang beroreantasi pasar dalam menghadapi kenyataan bisnis, baik dalam lingkungan makro maupun mikro yang terus berubah.
Dalam konteks itulah bukui inimenawarkan kepada para praktisi marketing untuk memperluas wawasan, konsep, strategi dan implementasi secara tepat dalam membimbing perjalanan transformasi bisnis menjadi sukses. Buku ini juga bisa dipakai oleh para mahasiswa program studi manajemen yang mengambil spesialisasi marketing. Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai kasus marketing perusahaan nasional dan internasional yang akan menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dalam dunia marketing.
Kelebihan :
• Dalam buku ini penulis memberikan keterangan yang sangat lengkap dalam bagian sub-sub pokoknya yang dimana dibutuhkan para pembaca.
• Penulis sangat memperhatikan detail dari bacaan, dimana tiap bagian pembahasan selalu lengkap dan lebih terinci pembahasannya.
• Buku sangat diperlukan untuk mahasiswa yang menyukai marketing.
Kekurangan :
• Buku ini sangat tebal sehingga memerlukan waktu yang sangat lama untuk membaca dan memahaminya.
RESENSI buku
Kesimpulan
Ilmu ekonomi mempelajari prilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumber daya yang langka, dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. Dalam ilmu ekonomi, banyak hal yang kita temui seperti kelangkaan, yang mencakup kuantitas, kualitas, tempat dan waktu, pilihan dan biaya kesempatan. Ruang lingkup ilmu ekonomi secara efisien dari tingkat individu, perusahaan dan industri. Ada tiga aspek penting yang dianalisis ekonomi mikro, yakni interaksi di pasar barang, tingkah laku pembeli dan penjual, dan interaksi di pasar faktor produksi.
Mekanisme pasar terdiri dari permintaan dan penawaran. Permintaan merupakan keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu, harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, tingkat pendapatan perkapita, selera dll. Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhinya harga faktor produksi, harga barang itu sendiri, biaya produksi, teknologi produksi dan kebijakan pemerintah.
Makin meluasnya penggunaan ilmu ekonomi memungkinkan perusahaan untuk mengukur kepekaan suatu variabel akibat adanya perubahan variabel lain. Hal ini disebut konsep elastisitas. Ada 3 macam konsep, yaitu pertama elastisitas permintaan digunakan untuk mengukur perubahan relative dalam jumlah unit barang yang abadi sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya. Kedua, elastisitas penawaran yang merupakan angka yang menunjukkan berapa persen yang ditawarkan berubah, bila harga barang berubah satu persen. Ketiga, elastisitas jangka pendek dan jangka panjang.
Terdapat tiga teori yang digunakan untuk menganalisis masalah ekonomi, yakni teori prilaku konsumen, teori produksi dan teori biaya produksi. Dalam teori produksi dalam aktivitasnya berhubungan dengan tingkat produksinya. Faktor produksi terdiri dari
2 faktor yaitu, faktor produksi tetap dan faktor produksi variable. Selain itu, dalam teori biaya prosuksi yang mempengaruhi teori ini yakni konsep biaya, produksi, produktivitas, biaya produksi jangka pendek ( biaya tetap, biaya rata-rata, biaya marginal), biaya produksi jangka panjang.
Tujuan perusahaan secara teoritis adalah mencari laba (profit). Makin besar resiko, laba yang diperoleh harus semakin besar dan sebaliknya. Ada tiga pendekatan perhitungan laba maksimum: (1) pendekatan totalitas (totality approach), (2) pendekatan rata-rata (average approach), (3) pendekatan marginal (marginal approach). Telah dijelaskan bahwa jumlah output yang di produksi perusahaan agar mencapai laba maksimum adalah pada saat MR=MC.
Salah satu factor yang menimbulkan perbedaan itu adalah posisi perusahaan dalam pasar (struktur pasar). Ada 4 (empat) macam pasar, yaitu: pertama, perusahaan berada dalam persaingan sempurna (perfect competition), dimana jumlah perusahaan begitu banyak dan kemampuan setiap perusahaan sangant kecil untuk mempengaruhi harga pasar. Kedua, perusahaan hanya satu-satunya produsen (monopoli) dalam posisi ini perusahaan mampu mempengaruhi harga dan jumlah output dalam pasar. Ketiga, persaingan monopolistic (monopolistic competition), dimana perusahaan bersaing, tetapi masing-masing mempunyai daya monopoli (terbatas). Keempat, dalam pasar hanya ada beberapa produsen yang jika bekerja sama mampu menghasilkan daya monopoli, kondisi ini dikenal dengan oligopoli (oligopoly).
KELEBIHAN
Buku teori ekonomi mikro KEKURANGAN
Buku teori ekonomi mikro
Dalam buku ini penulis memberikan keterangan yang sangat lengkap dalam bagian sub-sub pokoknya yang dimana dibutuhkan para pembaca.
Pada halaman terakhir, penulis memberikan indeks subjek untuk memudahkan pembaca menemukan halaman yang diinginkan.
Penulis sangat memperhatikan detail dari bacaan, dimana tiap bagian pembahasan selalu lengkap dan lebih terinci pembahasannya.
Dalam tiap bab pembahasan, penulis selalu memberikan pertanyaan atau sosl-soal berikut jawabannya sehingga pembaca dapat mempelajari soal tersebut dan jawaban benarnya.
Daftar pustaka atau referensi yang digunakan penulis menggunakan referensi yang cukup lama seperti, Microeconomic Theory karangan Richard A. Billas tahun 1985.
Analisis penulis untuk menganalisis kasus yang berhubungan dengan perekonomian Indonesia sangat sedikit sekali.
Dalam tabel perkembangan struktur produksi perekonomian DKI Jakarta menggunakan tahun yang lama 2000-2002, seharusnya penulis menganalisis tahun 2005-2006 sesuai tahun terbitannya.
Apabila pembaca menemukan kata-kata yang sulit atau kata-kata yang baku dalam buku ini, penulis tidak menerangkan penjelasanya sehingga membuat pembaca kesulitan.
Ilmu ekonomi mempelajari prilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan untuk menggunakan sumber daya yang langka, dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. Dalam ilmu ekonomi, banyak hal yang kita temui seperti kelangkaan, yang mencakup kuantitas, kualitas, tempat dan waktu, pilihan dan biaya kesempatan. Ruang lingkup ilmu ekonomi secara efisien dari tingkat individu, perusahaan dan industri. Ada tiga aspek penting yang dianalisis ekonomi mikro, yakni interaksi di pasar barang, tingkah laku pembeli dan penjual, dan interaksi di pasar faktor produksi.
Mekanisme pasar terdiri dari permintaan dan penawaran. Permintaan merupakan keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu, harga barang itu sendiri, harga barang lain yang terkait, tingkat pendapatan perkapita, selera dll. Penawaran adalah jumlah barang yang produsen ingin tawarkan (jual) pada berbagai tingkat harga selama satu periode tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhinya harga faktor produksi, harga barang itu sendiri, biaya produksi, teknologi produksi dan kebijakan pemerintah.
Makin meluasnya penggunaan ilmu ekonomi memungkinkan perusahaan untuk mengukur kepekaan suatu variabel akibat adanya perubahan variabel lain. Hal ini disebut konsep elastisitas. Ada 3 macam konsep, yaitu pertama elastisitas permintaan digunakan untuk mengukur perubahan relative dalam jumlah unit barang yang abadi sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya. Kedua, elastisitas penawaran yang merupakan angka yang menunjukkan berapa persen yang ditawarkan berubah, bila harga barang berubah satu persen. Ketiga, elastisitas jangka pendek dan jangka panjang.
Terdapat tiga teori yang digunakan untuk menganalisis masalah ekonomi, yakni teori prilaku konsumen, teori produksi dan teori biaya produksi. Dalam teori produksi dalam aktivitasnya berhubungan dengan tingkat produksinya. Faktor produksi terdiri dari
2 faktor yaitu, faktor produksi tetap dan faktor produksi variable. Selain itu, dalam teori biaya prosuksi yang mempengaruhi teori ini yakni konsep biaya, produksi, produktivitas, biaya produksi jangka pendek ( biaya tetap, biaya rata-rata, biaya marginal), biaya produksi jangka panjang.
Tujuan perusahaan secara teoritis adalah mencari laba (profit). Makin besar resiko, laba yang diperoleh harus semakin besar dan sebaliknya. Ada tiga pendekatan perhitungan laba maksimum: (1) pendekatan totalitas (totality approach), (2) pendekatan rata-rata (average approach), (3) pendekatan marginal (marginal approach). Telah dijelaskan bahwa jumlah output yang di produksi perusahaan agar mencapai laba maksimum adalah pada saat MR=MC.
Salah satu factor yang menimbulkan perbedaan itu adalah posisi perusahaan dalam pasar (struktur pasar). Ada 4 (empat) macam pasar, yaitu: pertama, perusahaan berada dalam persaingan sempurna (perfect competition), dimana jumlah perusahaan begitu banyak dan kemampuan setiap perusahaan sangant kecil untuk mempengaruhi harga pasar. Kedua, perusahaan hanya satu-satunya produsen (monopoli) dalam posisi ini perusahaan mampu mempengaruhi harga dan jumlah output dalam pasar. Ketiga, persaingan monopolistic (monopolistic competition), dimana perusahaan bersaing, tetapi masing-masing mempunyai daya monopoli (terbatas). Keempat, dalam pasar hanya ada beberapa produsen yang jika bekerja sama mampu menghasilkan daya monopoli, kondisi ini dikenal dengan oligopoli (oligopoly).
KELEBIHAN
Buku teori ekonomi mikro KEKURANGAN
Buku teori ekonomi mikro
Dalam buku ini penulis memberikan keterangan yang sangat lengkap dalam bagian sub-sub pokoknya yang dimana dibutuhkan para pembaca.
Pada halaman terakhir, penulis memberikan indeks subjek untuk memudahkan pembaca menemukan halaman yang diinginkan.
Penulis sangat memperhatikan detail dari bacaan, dimana tiap bagian pembahasan selalu lengkap dan lebih terinci pembahasannya.
Dalam tiap bab pembahasan, penulis selalu memberikan pertanyaan atau sosl-soal berikut jawabannya sehingga pembaca dapat mempelajari soal tersebut dan jawaban benarnya.
Daftar pustaka atau referensi yang digunakan penulis menggunakan referensi yang cukup lama seperti, Microeconomic Theory karangan Richard A. Billas tahun 1985.
Analisis penulis untuk menganalisis kasus yang berhubungan dengan perekonomian Indonesia sangat sedikit sekali.
Dalam tabel perkembangan struktur produksi perekonomian DKI Jakarta menggunakan tahun yang lama 2000-2002, seharusnya penulis menganalisis tahun 2005-2006 sesuai tahun terbitannya.
Apabila pembaca menemukan kata-kata yang sulit atau kata-kata yang baku dalam buku ini, penulis tidak menerangkan penjelasanya sehingga membuat pembaca kesulitan.
Langganan:
Postingan (Atom)
